<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<mods xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-7.xsd">
  <titleInfo>
    <title>Pustaka Dwipantaraparwa Sargah 7</title>
  </titleInfo>
  <identifier type="local"> 07.87</identifier>
  <location>
    <physicalLocation>Museum Sri Baduga Jawa Barat</physicalLocation>
  </location>
  <physicalDescription>
    <form authority="gmd">manuscript</form>
    <note type="physical">Keadaan naskah cukup baik, utuh, masih lengkap, dan masih dapat dibaca. Naskah ini berukuran 26,9 x 36,5 cm dengan ukuran ruang tulisan 21,5 x 29,8. Jumlah baris per halaman 21 baris dengan jarak antarbaris 0,8 cm. Naskah ini teksnya berbentuk prosa, ditulis menggunakan tinta berwarna hitam, terdapat penomoran pada pias atas tengah. Naskah ini dikarang atau disusun oleh Pangeran Wangsakerta di Keraton Cirebon 1607 Saka (1685 Masehi), berasal dari Cirebon.</note>
    <note type="material"></note>
  </physicalDescription>
  <language>
    <languageTerm type="text"></languageTerm>
  </language>
  <note type="content">Naskah yang berjudul Pustaka Dwipantaraparwa Sargah 7 ini menceritakan tentang kerajaan-kerajaan di Jawa Barat, baik kerajaan pusat maupun kerajaan wilayah. Kerajaan yang diceritakan di antaranya, Tarumanagara, Kendan, Galuh, Sunda, dan Indraprahasta.
Berdasarkan naskah ini Kerajaan Tarumanagara merupakan induk yang menurunkan kerajaan lainnya. Raja terakhir Tarumanagara (abad ke-7), Sang Banga dan Sang Manarah bertahta di Sunda dan Galuh (abad ke-8), dan Prabu Walangsungsang memerintah di Galuh (895 Saka atau 973 M). Konflik antara Sang Banga dengan Sang Manarah melibatkan Galuh, Sunda, Mataram, dan Indraprahasta. Konflik diselesaikan dengan perundingan yang dprakarsai oleh Resiguru Demunawan dari Galunggung. Cerita ini sama halnya dengan yang diceritakan dalam naskah Carita Parahyangan.</note>
  <note type="ownership"></note>
</mods>