<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<mods xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-7.xsd">
  <titleInfo>
    <title>Wawacan Jaka Bayawak</title>
  </titleInfo>
  <identifier type="local">DS 0029 00006; MS. HS. 86</identifier>
  <location>
    <physicalLocation>Perpustakaan Nasional Republik Indonesia</physicalLocation>
  </location>
  <physicalDescription>
    <form authority="gmd">manuscript</form>
    <note type="physical">Kondisi naskah baik. Ukuran alas tulis 14.3 x 9.5 cm; ukuran bidang tulisan 12.3 x 7 cm. Halaman kosong 38 hlm. </note>
    <note type="material">Kertas</note>
  </physicalDescription>
  <language>
    <languageTerm type="text">Sunda</languageTerm>
  </language>
  <note type="content">Naskah ini berisi dua teks. Teks pertama yaitu kisah Wawacan Jaka Bayawak, yang menceritakan seorang putera raja dari Negeri Madengda yang ditakdirkan berwujud seperti biawak sehingga diberi nama Jaka Bayawak. Dia meninggalkan istana dan dipelihara seorang perempuan miskin di wilayah Majapait karena tersangkut dalam jaring perempuan itu. Setelah remaja, Jaka Bayawak ikut berlayar bersama seorang nakhoda dan sempat berguru di Pulau Penang. Setelah itu, ia kembali kepada ibu angkatnya dengan ajimat berupa labu ajaib. Berkat kesaktiannya, Jaka Bayawak berubah menjadi satria tampan dan menikah dengan salah seorang puteri Majapahit. Akhirnya, Jaka Bayawak diangkat sebagai raja Majapahit dengan gelar Raden Amarjaya.
Teks kedua berisi mantra dan doa.&amp;nbsp;</note>
  <note type="ownership">Diakuisisi dari Yayasan Ngariksa Budaya Indonesia.</note>
</mods>