<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<mods xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-7.xsd">
  <titleInfo>
    <title>Martabat Tujuh</title>
  </titleInfo>
  <identifier type="local">07.07; CD-FO/02.08</identifier>
  <location>
    <physicalLocation>Museum Sri Baduga Jawa Barat</physicalLocation>
  </location>
  <physicalDescription>
    <form authority="gmd">manuscript</form>
    <note type="physical">Keadaan naskah rusak, beberapa lembar sudah sobek, dan sebagian tidak dapat dibaca lagi. Naskah ini berukuran 13,8 x 18,8 cm dengan ukuran ruang tulisan 12,5 x 17,7 cm, jumlah baris per halaman 5-22 baris, halaman awal 5 baris dan halaman akhir 12 baris. Naskah ini teksnya berbentuk prosa, sebagian teks ditulis dalam bentuk diagram atau skema, tulisan kurang jelas karena terlalu rapat dan hurufnya kecil, ditulis menggunakan pena runcing serta tintanya berwarna hitam dan jarak antarbaris sekitar 0,3-0,6 cm. Naskah yang berasal dari Majalengka ini kemungkinan teksnya disalin oleh dua orang penyalin.&amp;nbsp;</note>
    <note type="material"></note>
  </physicalDescription>
  <language>
    <languageTerm type="text"></languageTerm>
  </language>
  <note type="content">Naskah ini berisi tantang ajaran martabat tujuh, doa-doa, dan primbon. Sebagian besar isi kandungan teks naskah adalah ajaran martabat tujuh atau emanasi Tuhan dalam martabat tujuh, yaitu salah satu ajaran tasawuf yang menjelaskan hakikat keberadaan Tuhan. Ketujuh martabat itu adalah martabat&amp;nbsp;ahadiyah, wahdah, wahidiyah, alam arwah, alam misal, alam ajsam, dan martabat alam insan.&amp;nbsp;
Naskah diawali dengan doa istigfar dan doa-doa yang lain, selanjutnya dipaparkan ajaran martabat tujuh melalui bagan yang dikombinasikan dengan simbol-simbol berupa garis, diagram, serta teks-teks yang mendukung makna dari simbol-simbol tersebut.</note>
  <note type="ownership"></note>
</mods>