<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<TEI xmlns="http://www.tei-c.org/ns/1.0">
  <teiHeader>
    <fileDesc>
      <titleStmt>
        <title type="main">Digital Edition of Manuskrip: Wawacan Sukarta</title>
      </titleStmt>
      <publicationStmt>
        <publisher>KANDAGA Repository</publisher>
      </publicationStmt>
      <sourceDesc>
        <msDesc>
          <msIdentifier>
            <repository>Perpustakaan Nasional Republik Indonesia</repository>
            <idno>DS 0029 00156;Ms. HS. no. 154</idno>
          </msIdentifier>
          <msContents>
            <summary>Bagian awal mengisahkan raja di negara Mekah bernama Sri Maha Bagenda Hamzah, adik dari Umar Maya. Umar Maya (Tasik Madu) adalah orang yang pandai dan sangat cerdik. Raja Hamzah bercerita kepada Umar Maya, bahwa ia bermimpi pedangnya yang hilang beberapa tahun lalu ditemukan lagi, tepatnya di negeri Nusantara dan dimiliki oleh Prabu Rara. Pedang itu dibuat oleh Amir Hamzah ketika sedang sengsara dan menjadi pandai besi di Tunjung Karobal. Ia lalu mengutus Umar Maya untuk memeriksa kebenaran pedang itu. Pedang berhasil diambil oleh Umar Maya dengan menyamar menjadi Prabu Dewi. Setelah diketahui bahwa pedangnya hilang, Prabu Rara dan Prabu Dewi mengejar Umar Maya kemudian terjadi pertarungan. Terjadi beberapa kali perebutan pedang dengan cara saling mengubah wujud untuk mengelabui lawan. Hingga Amir Hamzah mengutus pasukan dari negeri Mekah untuk memperebutkan pedang itu.</summary>
            <textLang mainLang="...">Languages: Sunda | Scripts: Pegon</textLang>
          </msContents>
          <physDesc>
            <objectDesc form="manuscript">
              <supportDesc material="...">
                <support><p>Kertas Eropa. Ukuran alas tulis 21 cm x  16,5 cm.</p></support>
              </supportDesc>
            </objectDesc>
          </physDesc>
          <history>
            <provenance><p>Riwayat akuisisi: Naskah ini semula dikumpulkan oleh Viviane Sukanda Tessier di Bandung melalui lembaga École française d&#039;Extrême-Orient (EFEO), kemudian dikelola oleh Yayasan Pelestari Naskah (YAPENA). Koleksi naskah selanjutnya dikelola oleh Yayasan Ngariksa Budaya Indonesia (Ngariksa Foundation), hingga akhirnya diakuisisi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2024.</p></provenance>
          </history>
        </msDesc>
      </sourceDesc>
    </fileDesc>
  </teiHeader>
  <text>
    <body>
      <p>Transkripsi/Teks naskah digital belum disematkan.</p>
    </body>
  </text>
</TEI>