<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<TEI xmlns="http://www.tei-c.org/ns/1.0">
  <teiHeader>
    <fileDesc>
      <titleStmt>
        <title type="main">Digital Edition of Manuskrip: Sang Hyang Siksa Kandang Karesian</title>
      </titleStmt>
      <publicationStmt>
        <publisher>KANDAGA Repository</publisher>
      </publicationStmt>
      <sourceDesc>
        <msDesc>
          <msIdentifier>
            <repository>Perpustakaan Nasional Republik Indonesia</repository>
            <idno>L 624</idno>
          </msIdentifier>
          <msContents>
            <summary>Isinya bersifat ensiklopedis yang memberikan gambaran tentang pedoman moral umum untuk kehidupan bermasyarakat pada masa itu, termasuk berbagai ilmu yang harus dikuasai sebagai bekal kehidupan praktis sehari-hari. Penuturannya berpijak pada kehidupan di dunia dalam negara. Sanghyang Siksa Kandang Karesian dimaksudkan untuk diajarkan oleh sang budiman kepada mereka yang mencari kebahagiaan. Isi ajaran yang tersurat di dalamnya sebagian besar ditujukan kepada kelompok yang bukan resi, terutama dalam hal pelaksanaan tugas rakyat (hulun) bagi kepentingan raja.
Di dalamnya termuat ungkapan dan keterangan tentang sepuluh kesejahteraan (dasakreta), sepuluh pengabdian (dasa prebakti), sepuluh alat&amp;nbsp;indra (panca indriya), sebutan kerabat dalam keluarga, penjelasan tentang&amp;nbsp;lima kenyataan yang sedang berlangsung (panca tatagata) yaitu lima tulisan&amp;nbsp;(panca aksara), lima pelingdung (panca byapara), lima orang putera Sang&amp;nbsp;Kandiawan (panca putra), lima resi murid Siwa (panca kusika), dan pembagian&amp;nbsp;lima arah mata angin beserta warna dan dewa yang menempatinya (sanghyang&amp;nbsp;wuku lima), larangan dan anjuran dalam berbagai aspek kehidupan manusia,&amp;nbsp;berbagai judul cerita pantun, judul kawih, permainan, motif ukiran, senjata,&amp;nbsp;makanan, formasi perang, motif kain, mantra, pertanda alam, ajaran, cara&amp;nbsp;mengukur tanah, pelabuhan, harga, sandi, bahasa, pekerjaan, dan keahlian.&amp;nbsp;Termuat pula ungkapan berbagai perbuatan baik dan buruk manusia, tanah-tanah kotor, sifat-sifat kearifan, keutamaan, etika, ungkapan trigeuing,&amp;nbsp;tritangtu dan triwarga dengan disertai penjelasannya.</summary>
            <textLang mainLang="...">Languages: Sunda Kuna | Scripts: Sunda Kuna</textLang>
          </msContents>
          <physDesc>
            <objectDesc form="manuscript">
              <supportDesc material="...">
                <support><p>Lontar. Naskah ditulis pada daun lontar berukuran 36,2 x 3,2cm. Jumlah lempirnya 20 (rekto-verso, 40 halaman) tersusun atas 4 baris tulisan pada tiap halamannya. Pada bagian kiri bambu pengapit terdapat angka 624 yang menandakan nomor kode naskah dan pada bagian kanannya ditempel label bertuliskan 20=314x32 mm yang menandakan jumlah lempir dan ukuran.
Lempiran-lempiran tersebut disatukan dengan benang kasur warna putih&amp;nbsp;yang dimasukkan pada lubang kecil di bagian tengah naskah. Pengapit terbuat&amp;nbsp;dari dua bilah bambu dengan corak tutul. Secara keseluruhan, keadaan fisiknya&amp;nbsp;mulus dan tulisannya masih dapat terbaca dengan cukup jelas.
Bagian sudut kiri naskah ini sedikit patah. Patahan tersebut berukuran&amp;nbsp;dan berbentuk sama dan terdapat pada setiap lempiran dan pengapitnya.&amp;nbsp;Tidak ditemukan keterangan yang menjelaskan mengapa patahan tersebut&amp;nbsp;dapat terjadi. Pada beberapa lempiran terdapat bagian yang berlubang akibat&amp;nbsp;serangga. Pada setiap sudut kiri atas halaman verso terdapat angka yang ditulis&amp;nbsp;dengan huruf Latin mulai dari angka 11 sampai 30. Dari keberadaan angka ini,&amp;nbsp;dapat diperkirakan, setidaknya pada mulanya diakuisisi oleh BGKW naskah&amp;nbsp;ini berjumlah 30 lempir atau mungkin lebih.
Bagian lain dari naskah ini&amp;nbsp; juga ditemukan pada peti nomor 85 Kropak 1+ yang diberi judul Angsa &amp;amp; Kura-kura. Pada&amp;nbsp;kropak ini terdapat 5 lempir naskah lontar yang menggunakan&amp;nbsp;bahasa Sunda kuna dan aksara Sunda kuna dengan 4 baris aksara pada tiap&amp;nbsp;lempirnya. Keadaannya telah hancur, patah dan keropos tanpa pengapit&amp;nbsp;bambu. Ukurannya 36,3 x 3 cm (lempir terpanjang)</p></support>
              </supportDesc>
            </objectDesc>
          </physDesc>
          <history>
            <provenance><p>Berasal dari koleksi pemberian Bupati Bandung Wiranatakusumah IV (1846-1847) kepada BGKW kira-kira paruh kedua abad-19.</p></provenance>
          </history>
        </msDesc>
      </sourceDesc>
    </fileDesc>
  </teiHeader>
  <text>
    <body>
      <p>Transkripsi/Teks naskah digital belum disematkan.</p>
    </body>
  </text>
</TEI>