Kembali ke Katalog
Naskah

Jati Suda

Lembaga Penyimpan : Perpustakaan Nasional RI
Kode Inventaris : L 421
Aksara & Bahasa : Sunda Kuna | Sunda Kuna
Alas Tulis : Lontar
Deskripsi Fisik Kropak ini berisi lima lembar daun lontar (Borassus umbraculifera) berukuran 28 x 2,8 cm (terpanjang) tanpa pengapit dan tali pengikat, dengan empat baris tulisan beraksara dan bahasa Sunda Kuna pada empat lembar lontar. Di bagian tengah setiap lempiran terdapat lubang kecil untuk tempat memasukkan benang pengikat. Bagian tepian naskah telah keropos, rumpang dan sebagian patah. Terdapat penomoran asli yang ditulis pada tepi margin kiri halaman verso. Ruang pada margin untuk nomor halaman relatif sempit, sehingga untuk membedakannya dengan teks isi penulis atau penyalin naskah tampak memberikan garis vertikal tambahan sebagai pembatas.
Deskripsi Isi

Pembuka kisah teks JSd membahas suatu hal yang dianggap luar biasa dan sering dibicarakan oleh orang-orang yang telah memahami ajaran kebijaksanaan. Sebuah perjalanan spiritual yang dimulai dengan proses terbebasnya jiwa Sanghyang Darma dari segala kesenangan dan nafsu duniawi. Pembebasan inti jiwa ini dikehendaki oleh Sang Manon-Sang Manonton. Jiwa yang telah terbebas dari raga itu kemudian harus melanjutkan sendiri perjalanannya. Keadaan jiwa yang telah kosong (dari nafsu duniawi) diumpakan seperti ruas kangkung dan buluh betung, bagaikan telapak kaki kuntul yang telah terbang melayang.


Jiwa yang telah mendapatkan tahap demikian artinya telah memahami nasihat dan ajaran kelepasan. Ia akan menuju ke ujung dunia, tempat bersemayamnya Sang Hyang Tungtung Bwana. Yaitu pusat dari Gunung Kahyangan yang terang benderang. Berbagai keindahan bunga dari Sang Hyang Surakadana akan ia temukan, yang merupakan awal dari segala kemuliaan dan kebahagiaan, yaitu jati suda (kemurnian sejati).


Inti dari segala pengetahuan diungkapkan dalam perumpamaan Sanghyang Talaga Doja, berupa seloka kuta, kani, peni, artinya ‘benteng’, ‘luka’, dan ‘pencapaian’. Jiwa itu kemudian lenyap dari keberadaannya di dunia, setelah memahami empat nasihat dari sang Wiku Kabujanggaan, atas keteguhan dan kemurnian Sanghyang Wisésa yang bening berkilauan. Ada yang disebut dengan Sanghyang Pramana, diumpamakan sebagai buluh yang bengkok. Lima jalan suci (pancamarga) lima bagian (wuku lima), yaitu berupa nasihat pemberian sang pandita, sebagai petunjuk jalan menuju puncak langit Sanghyang Angkasa. Ia akan mendapatkan sebuah kewaspadaan yang begitu besar, terhadap Sanghyang Angkasa (langit), dan Sanghyang Alas (hutan/daratan). 


Seluruh nasihat dari entitas yang paling berhak untuk mengambil, diumpakan bagai pelita di dunia, sehingga ia mampu menuju keadaan abadi. Sehingga, tibalah ia pada siang yang abadi, sampai kepada awal dan kembali ke permulaan. Jangan sampai jiwa itu dibuat bingung atas dua pilihan, sehingga oleh karenanya, sang jiwa batal melakukan perjalanannya dan tidak sampai ke tujuan akhirnya akibat tidak cukup bekal (ilmu).


Dalam keadaan yang telah murni, ia naik menuju tangga yang terbuat dari bebatuan mulia (manik sawéstra), segala pernak-pernik kewajiban semasa di dunia, mengingatkan kisah tentang ajaran dewata (déwatadarma), yaitu dari Dewa Terus Kancana, untuk memisahkan raga menjadi dua. Membelah dua raga kecil (roh), untuk menuju Sang Septa Mula Jati Larang dan kepada Sang Septa Mula Jati(?)han. Dari Sanghyang Biheung, kemudian jiwa itu masuk ke dalam sebuah keadaan hampa dan kosong. Itulah yang disebut hidup sang Hyang (?), Hyang Lajar Burahan, yang berasal dari Sang Hyang Pretiwi (bumi), diciptakan oleh Batara Guru. Setelah melewati seluruh rintangan, melalui lima bentuk penderitaan (pancagati sangsara), dan telah bebas dari penderitaan itu, maka keluarlah ia dari dasar kawah. Jiwanya kemudian terbebas dari keadaan nista menuju moksa. 


Teks selesai ditulis oleh hulu kumbang Batu Wangi.

Referensi Katalog
FORMAT APSA (DEFAULT):
Noegraha, Nindya dkk.. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional RI. Ed. Behrend, T. E.. Vol. 4. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Akses Digital

Versi digital belum tersedia

Informasi Tambahan
Negara Asal:
Indonesia
Riwayat Naskah:
Naskah Terkait Lainnya